Rabu, 18 Februari 2009

Satu Tubuh Dua Realitas (I)

@andikey - Fenomena situs jejaring sosial sedikit banyaknya mampu mempengaruhi pola prilaku dan cara berpikir para penggunanya.

Tulisan ini lebih banyak berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan penulis terhadap orang-orang di sekitarnya. Ini bukan tulisan ilmiah yang berdasarkan penelitian khusus, jadi hanya analisa yang bersifat subyektif tentunya.

Status: single - in relationship - married - it's complicated
Pertama kali membuat akun di situs jejaring sosial bernama Friendster, mode status tersebut muncul saat kita membuat akun. Pilihan status apa yang ingin kita tampilkan memunculkan dilema, kadang meski berstatus berpacaran/menikah (in relationship/married) kita justru mengklik Single (lajang). Cukup sering status tersebut berubah sesuai fakta sebenarnya ketika banyak teman atau pasangan mengetahui bahwa kita tidak menampilkan status yang sebenarnya. Hal tersebut terjadi terhadap beberapa kawan saya, kejadian lucu tersebut menjadi fenomena menarik dalam kehidupan situs jejaring sosial. Kadang persoalan status menjadi bahan gurauan saat pengguna situs tersebut bertemu di dunia nyata (met physically).

Beberapa kawan saya yang sudah menjalin hubungan pacaran/suami-istri membuat akun pribadi di situs yang sama. Tujuannya selain membangun jalinan persahabatan dengan orang baru juga untuk saling memata-matai antar pasangan. Kalau sudah begini, suasana maya yang muncul menjadi kurang menarik lagi. Ujung-ujungnya salah satu pasangan tutup buku/akun. Kasihan juga sih. Hehe.

Sebagai pengguna situs jejaring sosial, penulis juga seringkali melakukan "manipulasi realitas". Maksudnya jatidiri (personality) yang muncul di dunia maya belum tentu sama dengan realitas nyata sehari-hari. Namun demikian, tidak semua orang memanipulasi realitas dirinya, banyak juga yang jujur apa adanya antara dirinya di dunia maya dengan dirinya di realitas nyata.

Tren saat ini ini -yang penulis kira- kejujuran menjadi penting dalam hubungan di situs jejaring sosial, karena motivasi utama kebanyakan pengguna situs adalah mencari mitra atau kawan yang sebenarnya. Sayang bila kita memanipulasi realitas karena potensi mendapatkan mitra atau rizki tak terduga menjadi berkurang bahkan hilang sama sekali.

Situs jejaring sosial kini beragam dan tingkat proteksi dalam upaya memberi kenyamanan bagi penggunanya pun semakin meningkat. Seperti Facebook (FB) yang menyarankan sejak awal bagi penggunanya agar pengguna hanya menjalin hubungan jejaring sosial antar pengguna yang berasal dari satu region (wilayah) dan pihak yang terkait memang saling mengenal. Kalau tidak salah FB dapat memblokir atau menutup akun bilamana banyak komplain dari satu pengguna yang merasa tidak nyaman atas permintaan pengguna lainnya. (bersambung)