Sabtu, 14 Februari 2009

Buku Diari Versus Blog (II)

@andikey - Tulisan kedua ini merupakan kelanjutan dari judul yang sama sebelumnya. Semoga bermanfaat.

Diari menjadi ruang personal penulis yang menutupi dirinya atas nama privasi, setidaknya selama penulis masih hidup, maka diari miliknya memiliki akses terbatas bagi yang boleh membacanya. Diari menjadi rahasia hati bagi pemiliknya yang menempatkan "realitas diri" yang mungkin berbeda dengan kenyataan hidup sehari-harinya bagi si penulis.

Keberadaan diari yang diperlakukan sedemikan rupa oleh penulisnya menyebabkan ketiadaan proses komunikasi bagi orang lain yang mungkin saja dapat mengomentari isinya. Jadi bila isi tulisan di diari berisi persoalan pribadi yang sulit diatasi, maka akses bagi kemungkinan bantuan pemecahan menjadi tertutup. Bila terlalu banyak persoalan hidup yang menumpuk tak terpecahkan dan hanya mengendap dalam diari, maka secara tidak langsung sang penulis menyiksa keadaannya sendiri. Tentu perlu saluran lain yang memungkinkan penulis mendapat tanggapan dan apresiasi atas permasalahan dirinya dari orang lain.

Diari tidak memungkinkan hal tersebut, namun ada alternatif: menemui orang lain untuk diajak berdiskusi tentang problematikanya atau menggunakan saluran lain yang efektif tanpa harus bertatap muka. Biasanya kita melakukan hal pertama, adapun mencari "saluran" lain kadang tidak terpikirkan. Nah, di zaman sibernetika ini "saluran" tersebut dapat menggunakan medium webblog.

Saat ini banyak situs weblog yang memudahkan kita menentukan saluran terbaik. Salah satunya menggunakan fasilitas situs blogger.com yang memungkinkan setiap penggunanya memiliki ruang privasi sendiri. Fenomena blog sebagai ruang privasi dan bebas sudah muncul sejak tahunan lalu. Kini setiap orang -terutama di negara maju seperti Indonesia- dapat memanfaatkan fasilitas blogger secara maksimal.

Saat nge-blog kita dapat menentukan konten apa yang menarik untuk dipublikasikan, termasuk masalah apa yang perlu dikomunikasin kepada orang lain. Bila proses berjejaring kita melaui blog dilakukan secara intensif, maka banyak 'keajaiban' yang dapat diperoleh berdasarkan respon orang lain yang mengikuti blog kita. Keajaiban dapat berupa nasihat penting, kiat-kiat, dan juga -mungkin- bantuan langsung dari pembaca blog kita.

Dibandingkan dengan diari yang tertutup bagi orang lain, maka keberadaan blog pribadi dapat lebih terbuka bagi orang lain untuk mengomentari diri kita. Namun demikian, diari bersifat orisinal dan jujur apa adanya dibandingkan blog yang potensial menyembunyikan hal sebenarnya dari pemilik/pengguna blog. Faktor saling percaya bagi blogger dan pembaca blog menjadi syarat penting, tanpanya kita menjadi hambar dan sulit berkembang.