Rabu, 11 Februari 2009

Bapak Guru Jadi Blogger (III)

@andikey - Tema dalam tulisan saya kali ini merupakan lanjutan (bagian ketiga) dari judul yang sama. Semoga bermanfaat. 
Saya mengenal dunia internet sejak sepuluh tahun yang lalu. Seingat saya, pertama kali nge-net untuk mencari artikel tentang musik blues untuk buletin musik yang akan beredar di kampus. Selanjutnya saya pun buat alamat email untuk pertama kali dan akhirnya saya lupa passwordnya sehingga berkali-kali saya buat alamat email baru. Kebutuhan utama saya kala itu memang sebatas cari data-data atau artikel yang saya butuhkan. Pada waktu itu, belum banyak orang buka usaha warnet dan kalaupun ada biasanya harga rental perjamnya mahal, itu belum termasuk waktu loading yang membosankan.

Karena kebutuhan nge-net belum besar, maka saya pun ketinggalan berita dan tren dunia maya. Berbeda dengan beberapa teman saya yang aktif ber-internet-an sejak lama, sekarang mereka tinggal menuai hasil dari proses panjangnya menjelajahi dunia internet. Ada teman saya yang biaya hidupnya sedikit banyak ditunjang dari permainan online, jadi desainer web, atau buka bisnis online.

Meskipun terlambat, saya gak mau terus-terusan ketinggalan. Sekarang saya sudah cukup sadar pentingnya menggauli dunia internet secara intensif. Perkembangan pesat internet memang luar biasa, sehingga dunia ini menjadi kurang lengkap bila tidak ada internet. Semua tersedia di internet. Lengkap dan menghibur.

Saya tidak memungkiri fakta bahwa perkembangan teknologi internet juga membawa informasi-pengetahuan di dalamnya. Keduanya berjalan beriringan dan saling melengkapi. Salah satu fenomena yang sangat populer adalah blog. Blog dengan perkembangan fitur-fiturnya menjelma menjadi ruang komunikasi baru yang dapat dikelola secara privat. Saya sadar apa yang saya bicarakan ini sudah basi dan terlambat, karena isu tersebut sudah muncul bertahun-tahun yang lalu.

Kini saya berusaha memanfaatkan kemungkinan terbaik yang dapat saya lakukan untuk memaksimalkan pemahaman dan sisi pragmatisme saya tentang internet, khususnya tentang blog. Setidaknya saya harus mendapatkan manfaat maksimal dari pemahaman saya mengenai blog.

Sambil terus mencari tahu, saya juga akan mendorong murid-murid saya agar melek dunia cybernet. Terlepas baik-buruknya ekses internet, namun saya yakin masih dapat menerima manfaat terbaik dari adanya internet. Melalui blog-blog mungkin proses transformasi informasi dan ide dapat semakin mudah.

Indonesia 2015 kemungkinan sudah menjadi negara yang memiliki akses internet di seluruh nusantara dengan harga murah bahkan gratis. Kita harus mendorong pemerintah agar menyediakan hotspot-hotspot di lokasi strategis yang merata di seluruh Indonesia.

Mungkinkah?
Saya yakin.
Pasti.
Ya.

Bapak Guru Jadi Blogger (II)

@andikey - Tema dalam tulisan saya kali ini merupakan lanjutan (bagian kedua) dari judul yang sama. Semoga saja bermanfaat. 
Secara pribadi saya adalah orang yang sulit bersikap dan bertutur layaknya seorang Guru. Butuh usaha keras untuk menyadari dan berdaptasi menjadi Guru. Dimanapun, guru akan menjadi contoh hidup bagi muridnya. Baik buruknya seorang guru di mata muridnya, akan berpengaruh terhadap perkembangan prilaku, pikiran, kejiwaan setiap siswa. Bekas atau jejak pemberian guru sedikit banyaknya akan tertinggal di benak pikiran maupun perasaan murid-muridnya. Wajar saja para orang bijak memperingatkan para guru agar berhati-hati dalam: bertutur kata, berperilaku, bersikap, dan bergaul, karena tauladan para murid adalah guru mereka sendiri.
Jujur, saya sungguh kerepotan ketika harus merubah pola komunikasi dan pola perilaku individual saya dari yang “brangasan” menjadi santun bersahaja khususnya terhadap murid-murid. Bahasa sehari-hari saya seperti “gue-elu” masih sering muncul saat berhadapan dengan para siswa. Walaupun para murid oke-oke saja, namun guru disarankan tidak berlaku seperti itu. Kata banyak orang, setiap guru harus menjaga wibawa dan kehormatannya sebagai seorang guru di mata murid, sekolah, juga masyarakat.
Ketika masih kuliah, saya sudah sering menjadi pembicara dan fasilitator kegiatan kampus khususnya di bidang fotografi dan manajerial. Karena statusnya masih mahasiswa, saya lebih sering berpenampilan cuek dan berbicara selugas-lugasnya tanpa harus khawatir berlebihan. Singkatnya, segala hal yang harus saya kuasai, siapi, dan jalani tidak jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan saat ini sebagai guru. Problematika dan serba serbinya kurang lebih sama. Bedanya hanya pada bentuk, penampilan dan prilaku belaka.
Semakin lama berjalan menjadi guru semakin saya memahami bagaimana sebaiknya bersikap, bertindak, dan berlaku. Tentu tidaklah sempurna hasilnya, karena masih banyak hal yang belum saya pahami sebagai guru. Sepertinya saya perlu lebih lama dan lebih banyak pengalaman menjalani hidup sebagai guru sekolah. Semoga saya kuat menjalani profesi sebagai guru sekolah. Amin.

Bapak Guru Jadi Blogger (I)

@andikey - Saya adalah seorang guru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelopor Nasional, Legoso, Ciputat yang mengajar dua bidang studi: fotografi dan manajemen produksi film. SMK Pelopor Nasional memiliki jurusan: Perfilman dan Multimedia. Meskipun baru 6 bulan menjadi guru banyak hal menarik yang saya jadikan pengalaman penting.

Pertama kali memperkenalkan diri kepada para siswa bahwa saya Guru baru di SMK Pelopor Nasional, saya canggung dan kurang percaya diri. Maklumlah, ini kali pertama menjadi guru sebagai profesi baru saya. Sebelumnya saya adalah wartawan di situs berita online okezone.com, namun karena ketertarikan untuk menggeluti dunia pendidikan formal, maka saya beranikan diri mengambil profesi guru yang ditawarkan teman sejawat saat di kampus dulu.

Saya mengajar di dua kelas berbeda, kelas I Jurusan Perfilman dan Kelas I Jurusan Multimedia dengan dua mata pelajaran: fotografi dan manajemen produksi film. Jumlah siswa keseluruhan yang saya ajar sebanyak tujuh puluh satu orang: 46 di kelas I Perfilman dan 25 orang di kelas Multimedia. Rata-rata mereka berusia antara 15-17 tahun dan secara psikologis menurut saya mereka masih gandrung dengan dunia populer remaja, sehingga diperlukan pola pengajaran yang sesuai dengan umur maupun kondisi psikis para murid.

Sejujurnya saya tidak berlatar belakang sarjana pendidikan, bahkan saya juga belum pernah mengikuti –setidaknya- pelatihan menjadi guru. Pastinya saya harus memutar otak dan mencari berbagai referensi untuk bahan metode pengajaran ideal. Saya memang menguasai keterampilan fotografi dan sedikit banyaknya pernah berkecimpung di dunia perfilman, namun menjadi guru formal? Ya, ini adalah pengalaman terbaru saya. Berikut hal-hal utama yang saya amati dari keadaan lingkungan maupun orang-orang yang berkecimpung di SMK tersebut. 

Pertama, saya mencoba merasakan aura bangunan, menyelami seluruh tata ruang sekolah, dan mencari tahu fasilitas pendidikan yang tersedia. Saya harus tahu dimana ruang kantor, kantin, kamar mandi, kelas, laboratorium, area bermain, dan tempat penting lainnya. Saya juga harus tahu apa saja fasilitas pendukung pendidikan yang ada/tersedia. 

Kedua, saya berusaha mengenali dan berbincang-bincang dengan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, guru maupun para staf pegawai di sekolah. Paling tidak saya harus tahu nama panggilan setiap orang yang mengajar maupun mengurus SMK ini. 

Ketiga, saya harus mengenali setiap siswa yang saya ajar. Meskipun lambat, saya secara perlahan dapat mengenali satu persatu murid yang saya ajar. Mulai dari nama lengkap, nama panggilan, kebiasaan, hobi, pola perilaku, serta pola pikir para murid saya coba selami lebih dalam. 

Keempat, saya merasa perlu tahu meskipun secara pasif tentang isu, wacana, maupun gosip-gosip yang ada di Sekolah. Hal tersebut penting bagi saya agar tidak terjebak dalam lingkaran “masalah psikologis” dan “adu kepentingan” yang mungkin saja terjadi di tempat saya mengajar. 

Kelima, saya membuat silabus, rancangan pembelajaran dan metodologi pengajaran. Saya juga mencari referensi buku dan sebagainya untuk menunjang metode pembelajaran di kelas. Seperti yang kita tahu, buku-buku tentang ilmu fotografi dan manajemen produksi film terbitan Indonesia sangat terbatas, mau tidak mau kita harus mengunduh e-book di internet atau beli buku terbitan luar negeri. 

Keenam, saya pun menguji coba metodologi pengajaran dan segera mengambil inisiatif perubahan maupun perbaikan metodologi bilamana terasa kurang mengena bagi siswa. 

Ketujuh, saya berusaha aktif dalam kegiatan-kegiatan formal maupun informal yang diselenggarakan sekolah. Targetnya agar saya lebih dekat secara fisik dan psikis dengan guru-guru maupun para murid. Keakraban, kesahajaan, dan keceriaan ternyata cukup ampuh untuk membangun silaturrahmi antar siswa-guru. 

Kedelapan, saya akan membuat blog khusus yang berkenaan dengan aktifitas belajar mengajar saya sekaligus dapat menjadi ruang komunikasi saya dengan para murid dan guru. Harapannya agar para murid saya terbiasa dengan dunia internet dan semoga memudahkan kami berkomunikasi tanpa harus bertatap muka atau bertemu secara fisik di luar jam sekolah.

Delapan poin di atas merupakan agenda kerja saya pada saat awal-awal mengajar. Namun demikian dalam perjalanannya, situasi dan kondisi tetap dinamis sehingga perlu banyak stok cara menghadapi keadaan maupun orang-orang yang ada.

Dalam tulisan selanjutnya, saya akan kemukakan lebih jauh dan lebih detil tentang pengalaman saya mengajar dan ide agar blog menjadi sarana transformasi pembelajaran baru bagi masyarakat Indonesia. Semoga bermanfaat. Terima kasih.