Selasa, 10 Februari 2009

Aku Hilang

@andikey - Mari kutemani engkau meninggalkan gerhana yang telah membuatmu sendu tak menentu. Biar kugenggam tanganmu dan kurebahkan kepalamu di atas bahuku. Kita berjalan perlahan tenang menapaki terjalnya bukit duka hingga kita bersua sang gerhana. Lihat saja, betapa gelap langit asa betapa keruh sungai harapan itu. Tetaplah kau di sisiku jalani bersama perjalanan ini sampai kita harus berhenti.

"Mengapakah engkau berikan duka pada kasihku ini, gerhana?", tanyaku. "Duka itu bukan dariku, tapi dirinyalah yang telah mengundang duka menghampiri hidupnya," jawab gerhana. "Tidak! engkaulah yang mendatangiku dengan segala peluh kasihan yang terpancar di wajahmu, siapa tega mengabaikan kenyataan sperti itu! tapi kau berdusta, ternyata kau hanya bermuka dua! diam-diam kau rusak jalan pikiranku dan kau acak-acak perasaan hatiku..," teriak Mawar geram.

Gerhana terdiam, lalu tertawa. "aku tidak bertanggung jawab atas apa yang kau pikirkan, atas apa yang kau rasakan! semua itu menjadi tanggung jawabmu sendiri!", gerhana menyeringai sambil membalikkan badannya lalu meninggalkan aku dan Mawar. Dengan segera aku berlari kecil menyusulnya dan kubalikkan tubuh gerhana dengan kasarnya. "Hei, bangsat!!!", teriakku.

Namun, betapa kagetnya aku ketika gerhana membalikkan tubuhnya, ternyata wajahnya telah berubah persis seperti wajah Mawar. Aku terkesiap sejenak, lalu ku palingkan wajahku ke arah Mawar yang tadinya berdiri mematung. Aku kembali terkaget-kaget sambil melepaskan cengkramanku terhadap gerhana. Mawar yang tadi kutinggal karena harus mengejar gerhana kini menghilang, sementara gerhana yang kucengkram itu telah berubah wujud menjadi sama persis seperti Mawar yang sempat bersamaku.

Tiba-tiba semua menjadi gelap gulita. Tak satupun wujud yang mampu kulihat, hanya gelap, hitam pekat. Wuzzzz.. Wuzzz.. aku seperti jatuh meluncur cepat dari langit ke bumi... begitu cepatnya. Sangat cepat. Kupejamkan mataku lalu kusedekapkan kedua tanganku diatas dadaku, namun entah mengapa aku bahkan tak mampu lagi merasakan tubuhku sendiri.

Begitu cepat, begitu dahsyat, aku hilang tanpa wujud namun aku sadar bahwa aku masih ada karena aku masih dapat berpikir. Aku masih saja meluncur. Cepat. Begitu Dahsyat. Terus. Entah kapan aku berhenti meluncur seperti ini.

Mayang, 10 Februari 2009
Andikey Kristianto

Kutipan Hari Ini

“Ketika Tuhan menciptakan manusia, Tuhan menganugerahkan musik sebagai suatu bahasa yang berbeda dengan bahasa lainnya, Tuhan menciptakan musik sebagai bahasa universal bagi seluruh umat manusia. Musik memberikan inspirasi bagi para penyair, penulis dan arsitek. Musik menggerakan kita untuk mencari jiwa dan ntuk memahami makna-makna misteri yang ditulis dalam buku-buku tua” (Khalil Ghibran)

Keberanian mengajari kita apa yang harus kita takuti dan apa yang seharusnya tidak kita takuti, hanya dengan mengambil tindakanlah kita peroleh pengetahuan itu, dan dari pengetahuan itu maka datanglah kekuatan batiniah yang menginspirasikan kita untuk bertekun ketika menghadapi kesusahan besar, dan menginspirasikan sesama untuk mengikat kita. Dimasa-masa yang paling sulit, keberanianlah yang menjadikan seorang pemimpin. (Jhon C. Maxwell)

In Memoriam HAMID JABBAR

"Assalamu’alaikum,ujarmu pada malam kau hadir di sini
Diam-diam kau menantikan suara-suara
yang perlahan menghampiri

Menitipkan padamu sejumlah tanda bagi sesama
Namun saat itu semua tak kuasa menahan tawa
Pada genggaman kata-katamu tersirat canda sapa
Dalam serangkaian nada yang merajut sukma
Gemuruh suaramu menghantam angkasa
Dan separuh jiwamu pun meregang mayapada
Kau teriakkan tentang DIA
Kau dendangkan nyanyian harapan padaNYA
Kau pun tak lupa bagikan senyum bagi sesama
Kau juga sempat beritakan tentang yang fana
Ketika semua terpesona
Ketika wajah-wajah terpana
Ketika nyata masih dianggap sekadar canda
Ketika itu pula tanda mulai menyapa
Di mimbar penantian ini
Kau bersabar menanti dengan penuh suka cita
Di mimbar persembahan ini
Kau sambut semua tanda penuh kepasrahan jiwa
Kausadarkan kami tentang kebersamaan
Kau bisikkan kami tentang kejujuran
Kau dedahkan pada kami tentang kesederhanaan
Kau jabarkan untuk kami tentang kesetiaan
Suaramu menggema jagat raya
Menghantar jiwa kepadaNYA
Kau tenang menghampiri keabadian
Kau tenang menjalani kepasrahan
Di sini kami hanya mampu menyaksikan
Wajah setia darimu ayahanda
Di sini kami hanya dapat menyanyikan
Kidung cinta untukmu ayahanda
Maafkan kami yang tertawa
Yang terlarut oleh suasana yang tak biasa
Maafkan kami yang tak kuasa
Memberi makna atas semua tanda-tanda darimu ayahanda
Saat kami melepas kepergianmu dari sini
Kami hanya melihat sederet kata tak biasa:
“Saatnya kejujuran memimpin bangsa ini”
Kami pun lirih mengucap,
“Saatnya keikhlasan mengantar jiwamu kembali”
Pada Sabtu malam, 29 Mei 2004, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, Penyair Hamid Jabbar, suami Lubuk Minturun ini, meninggal di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat ia membaca puisi. Kematiannya itu “bak panglima perang yang meninggal di titik pusat medan peperangan” sebagaimana dikatakan Emha Ainun Nadjib. Hamid Jabbar dimakamkan di pemakaman Pondok Rangon, Jakarta Timur.