Kamis, 22 Januari 2009

Darah dan Nafasku

@andikey - Suara-suara yang menakutkan itu terus menghampiriku dengan segenap bayangannya yang mengerikan bagiku. Aku ingin menghindarinya sejauh mungkin dan berharap tak lagi pernah dihampiri oleh suara-suara itu, namun aku terus terkurung di sudut ketakutan dan kebingungan. Terlalu lama aku menjalani ketakutan ini, hingga kepalaku dipenuhi oleh keraguan, kebimbangan, dan kecurigaan pada setiap langkahku. 

Aku dirudung kegalaun bila hendak menghempas ketakutanku ini. Mungkin ketakutan kini menjadi sahabat terbaikku selama ini, saking dekatnya kengerian itu hingga aku pun tak peduli lagi dengan jalan pikiranku sendiri. Tanpa arah, penuh kegusaran, terjangkit kejenuhan akut, dan kebodohan lainnya menjadi idealismeku yang entah aku sadari atau tidak sebenarnya. 

Suara-suara yang menakutkan dan menyakitkanku itu kini begitu akrab di telingaku, hingga aku pun mulai menganggap merdu apapun yang aku dengar kini. Begitu dahsyatnya, hingga akupun larut dengan suara-suara itu. Lihatlah hasilnya kini, aku telah menjadi seorang pembunuh, namun aku merasa itu bukan kejahatan, karena membunuh adalah hakku untuk membela diri dari segala yang merugikanku. Bila engkau menghalangi langkahku, maka akan kubunuh kau. Wajar, kan! Apa hakmu menghalangi jalan hidupku? Apa hakmu mengatur-atur apa yang ingin kulakukan.

Suara-suara itu tidak lagi menakutkanku, justru aku resah bila tak lagi mendengar apa yang biasa aku dengar. Saksikan! Ini bukti bahwa aku menikmati suara-suara itu. Tidakkah kau lihat mayat-mayat yang kugantung di atap kamarku itu, mereka semua mati karena mencoba menghalangi suara-suara yang ingin menghampiriku itu. Aku tidak membunuh mereka, tapi mereka membunuh diri mereka sendiri melalui tanganku yang mereka pinjam. Aku dengan tulus ikhlas menolong mereka untuk membunuh mereka. Biasa saja, kan?
Suara-suara itu kini menjadi darah dan nafasku, tanpa suara-suara itu aku merasa kehilangan jati diriku. Tak ada lagi perbedaan antara aku dengan suara-suara itu. 

Kini semua secara spontan mengeluarkan suara yang berasal dari diriku. Dengar! Suara-suara itu kini terdengar mendekat dan menghampiri kalian. Aha, selamat menikmati suara-suara itu, kawan! 

Ciputat, 13 Maret 2005