Kamis, 19 Februari 2009

Satu Tubuh Dua Realitas (II)

@andikey - Tulisan ini bagian kedua dari judul yang sama sebelumnya.

Game Online: Di Sini Tenang Di Sana Senang dan Harus Menang
Saya memiliki kawan yang hobinya main game online, satu masih berstatus pelajar -bernama (sebut saja) Ryo, lainnya berstatus mahasiswa dan wirausahawan. Teman saya yang masih Pelajar SMK sehari-harinya seperti kebanyakan anak seusianya, pagi-sore masuk sekolah. Hal yang mungkin sedikit berbeda adalah waktu sore hingga malamnya -kadang sampai pagi- dihabiskan untuk bermain game online. Saya pernah menanyakan padanya tentang respon orangtua terhadap aktifitasnya itu, Ryo menjawab bahwa Ia berusaha meyakinkan orangtuanya kalau dia di kamarnya sedang belajar. Maklum komputer berkoneksi internet yang ia gunakan memang berada dalam kamar pribadinya. Adapun nilai ujian sekolahnya tidak terlalu gemilang, namun cukup baik ditinjau dari sudut pandang bahwa secara Ryo jarang belajar kecuali di sekolah saja.

Setahun berlalu dan saya coba mencari tahu perkembangan Ryo, ternyata sekarang dia sudah lulus sekolah dan saat ini dia tetap asik di depan komputer bermain game online. Ryo memilih tidak melanjutkan pendidikannya ke Universitas karena gama online kadung dia cintai. Menurutnya, ia dapat menghasilkan uang dari game online, caranya adalah dengan menjual poin nilai yang ia miliki dalam akunnya di game online tersebut. Sejujurnya saya kurang begitu memahami, tapi garis besarnya Ryo mendapat celah menghasilkan uang dari game Online.

Teman saya lainnya -membuka usaha warnet- yang juga menggilai game online tidak jauh berbeda keadaannya dengan Ryo, mereka sedari pagi-siang-sore-malam sibuk di depan layar komputer dengan kedua tangan di atas keyboard dan sebuah headphone menempal di telinga. Mereka meninggalkan komputer hanya untuk makan-minum, tidur, mandi, atau kegiatan mendesak lainnya. Sesekali mereka keluar jauh bertemu dengan teman chat di game online untuk mengadakan transaksi jual-beli poin game. Begitu setiap hari dan seterusnya hingga tulisan ini dibuat.

Saya mencoba memahami dan menikmati fenomena ini. Saya coba perhatikan dari jarak dekat bagaimana kehidupan teman-teman saya -yang punya usaha warnet itu- berjalan. Ternyata, normal-normal saja. Pergaulan mereka tetap terjaga baik dan tetap mampu berkomunikasi dengan akti-proaktif terhadap orang-orang sekitar. Akan tetapi bila ditinjau dari usia dan pandangan ideal kebanyakan orang, maka mereka dianggap kurang pantas dan diharapkan menjalani kehidupan yang lebih wajar serta normal. Padahal teman saya penggila game online tersebut menyatakan bahwa kehidupan mereka normal dan wajar-wajar saja. Saya juga sependapat dengan teman saya itu. Menurut saya mereka berhak menentukan bagaimana mereka akan hidup tanpa harus pusing dengan apa yang diharapkan dari orang lain terhadap mereka.

Dunia pecinta game online sejati mungkin berbeda dengan dunia yang dibangun kebanyakan orang, namun selama kita menikmati apa yang kita lakukan serta berani bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi nantinya, maka biarkanlah segala sesuatunya berjalan.

Tidak ada komentar: