Rabu, 11 Februari 2009

Bapak Guru Jadi Blogger (I)

@andikey - Saya adalah seorang guru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelopor Nasional, Legoso, Ciputat yang mengajar dua bidang studi: fotografi dan manajemen produksi film. SMK Pelopor Nasional memiliki jurusan: Perfilman dan Multimedia. Meskipun baru 6 bulan menjadi guru banyak hal menarik yang saya jadikan pengalaman penting.

Pertama kali memperkenalkan diri kepada para siswa bahwa saya Guru baru di SMK Pelopor Nasional, saya canggung dan kurang percaya diri. Maklumlah, ini kali pertama menjadi guru sebagai profesi baru saya. Sebelumnya saya adalah wartawan di situs berita online okezone.com, namun karena ketertarikan untuk menggeluti dunia pendidikan formal, maka saya beranikan diri mengambil profesi guru yang ditawarkan teman sejawat saat di kampus dulu.

Saya mengajar di dua kelas berbeda, kelas I Jurusan Perfilman dan Kelas I Jurusan Multimedia dengan dua mata pelajaran: fotografi dan manajemen produksi film. Jumlah siswa keseluruhan yang saya ajar sebanyak tujuh puluh satu orang: 46 di kelas I Perfilman dan 25 orang di kelas Multimedia. Rata-rata mereka berusia antara 15-17 tahun dan secara psikologis menurut saya mereka masih gandrung dengan dunia populer remaja, sehingga diperlukan pola pengajaran yang sesuai dengan umur maupun kondisi psikis para murid.

Sejujurnya saya tidak berlatar belakang sarjana pendidikan, bahkan saya juga belum pernah mengikuti –setidaknya- pelatihan menjadi guru. Pastinya saya harus memutar otak dan mencari berbagai referensi untuk bahan metode pengajaran ideal. Saya memang menguasai keterampilan fotografi dan sedikit banyaknya pernah berkecimpung di dunia perfilman, namun menjadi guru formal? Ya, ini adalah pengalaman terbaru saya. Berikut hal-hal utama yang saya amati dari keadaan lingkungan maupun orang-orang yang berkecimpung di SMK tersebut. 

Pertama, saya mencoba merasakan aura bangunan, menyelami seluruh tata ruang sekolah, dan mencari tahu fasilitas pendidikan yang tersedia. Saya harus tahu dimana ruang kantor, kantin, kamar mandi, kelas, laboratorium, area bermain, dan tempat penting lainnya. Saya juga harus tahu apa saja fasilitas pendukung pendidikan yang ada/tersedia. 

Kedua, saya berusaha mengenali dan berbincang-bincang dengan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, guru maupun para staf pegawai di sekolah. Paling tidak saya harus tahu nama panggilan setiap orang yang mengajar maupun mengurus SMK ini. 

Ketiga, saya harus mengenali setiap siswa yang saya ajar. Meskipun lambat, saya secara perlahan dapat mengenali satu persatu murid yang saya ajar. Mulai dari nama lengkap, nama panggilan, kebiasaan, hobi, pola perilaku, serta pola pikir para murid saya coba selami lebih dalam. 

Keempat, saya merasa perlu tahu meskipun secara pasif tentang isu, wacana, maupun gosip-gosip yang ada di Sekolah. Hal tersebut penting bagi saya agar tidak terjebak dalam lingkaran “masalah psikologis” dan “adu kepentingan” yang mungkin saja terjadi di tempat saya mengajar. 

Kelima, saya membuat silabus, rancangan pembelajaran dan metodologi pengajaran. Saya juga mencari referensi buku dan sebagainya untuk menunjang metode pembelajaran di kelas. Seperti yang kita tahu, buku-buku tentang ilmu fotografi dan manajemen produksi film terbitan Indonesia sangat terbatas, mau tidak mau kita harus mengunduh e-book di internet atau beli buku terbitan luar negeri. 

Keenam, saya pun menguji coba metodologi pengajaran dan segera mengambil inisiatif perubahan maupun perbaikan metodologi bilamana terasa kurang mengena bagi siswa. 

Ketujuh, saya berusaha aktif dalam kegiatan-kegiatan formal maupun informal yang diselenggarakan sekolah. Targetnya agar saya lebih dekat secara fisik dan psikis dengan guru-guru maupun para murid. Keakraban, kesahajaan, dan keceriaan ternyata cukup ampuh untuk membangun silaturrahmi antar siswa-guru. 

Kedelapan, saya akan membuat blog khusus yang berkenaan dengan aktifitas belajar mengajar saya sekaligus dapat menjadi ruang komunikasi saya dengan para murid dan guru. Harapannya agar para murid saya terbiasa dengan dunia internet dan semoga memudahkan kami berkomunikasi tanpa harus bertatap muka atau bertemu secara fisik di luar jam sekolah.

Delapan poin di atas merupakan agenda kerja saya pada saat awal-awal mengajar. Namun demikian dalam perjalanannya, situasi dan kondisi tetap dinamis sehingga perlu banyak stok cara menghadapi keadaan maupun orang-orang yang ada.

Dalam tulisan selanjutnya, saya akan kemukakan lebih jauh dan lebih detil tentang pengalaman saya mengajar dan ide agar blog menjadi sarana transformasi pembelajaran baru bagi masyarakat Indonesia. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

1 komentar:

putra arista mengatakan...

saya cma pengen nanya doang?!
sebenarnya smk pelpor nasional itu sekolah legal atau ilegal sich?!
coz di web depdiknas,nama SMK PELPOR NASIONAL sama sekali ga ke-detect..
saya cuma menghimbau bgi guru or siswa di sekolah itu untuk berhati-hati aja krn kemungkinan besar sekolah itu ilegal jd kemungkinan besar siswa di sekolah itu ga diakui pemerintah..
hati2 skrg bnyak skolah2 ilegal n tak berizin yg bermunculan di negri ini n mungkin salah satunya adl SMK PELOPOR NASIONAL..
smoga info saya ini berguna n mendpt perhatian yg serius dr pihak sekolah..