Selasa, 10 Februari 2009

In Memoriam HAMID JABBAR

"Assalamu’alaikum,ujarmu pada malam kau hadir di sini
Diam-diam kau menantikan suara-suara
yang perlahan menghampiri

Menitipkan padamu sejumlah tanda bagi sesama
Namun saat itu semua tak kuasa menahan tawa
Pada genggaman kata-katamu tersirat canda sapa
Dalam serangkaian nada yang merajut sukma
Gemuruh suaramu menghantam angkasa
Dan separuh jiwamu pun meregang mayapada
Kau teriakkan tentang DIA
Kau dendangkan nyanyian harapan padaNYA
Kau pun tak lupa bagikan senyum bagi sesama
Kau juga sempat beritakan tentang yang fana
Ketika semua terpesona
Ketika wajah-wajah terpana
Ketika nyata masih dianggap sekadar canda
Ketika itu pula tanda mulai menyapa
Di mimbar penantian ini
Kau bersabar menanti dengan penuh suka cita
Di mimbar persembahan ini
Kau sambut semua tanda penuh kepasrahan jiwa
Kausadarkan kami tentang kebersamaan
Kau bisikkan kami tentang kejujuran
Kau dedahkan pada kami tentang kesederhanaan
Kau jabarkan untuk kami tentang kesetiaan
Suaramu menggema jagat raya
Menghantar jiwa kepadaNYA
Kau tenang menghampiri keabadian
Kau tenang menjalani kepasrahan
Di sini kami hanya mampu menyaksikan
Wajah setia darimu ayahanda
Di sini kami hanya dapat menyanyikan
Kidung cinta untukmu ayahanda
Maafkan kami yang tertawa
Yang terlarut oleh suasana yang tak biasa
Maafkan kami yang tak kuasa
Memberi makna atas semua tanda-tanda darimu ayahanda
Saat kami melepas kepergianmu dari sini
Kami hanya melihat sederet kata tak biasa:
“Saatnya kejujuran memimpin bangsa ini”
Kami pun lirih mengucap,
“Saatnya keikhlasan mengantar jiwamu kembali”
Pada Sabtu malam, 29 Mei 2004, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, Penyair Hamid Jabbar, suami Lubuk Minturun ini, meninggal di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat ia membaca puisi. Kematiannya itu “bak panglima perang yang meninggal di titik pusat medan peperangan” sebagaimana dikatakan Emha Ainun Nadjib. Hamid Jabbar dimakamkan di pemakaman Pondok Rangon, Jakarta Timur.

Tidak ada komentar: